Dia
wanita yang kuat, no no dia wanita yang sok kuat. Sok tegar dan sok mampu.
Melihat keatas hanya agar air matanya tidak jatuh. Malu nangis didepan orang
lain. Katanya, “aku hanya terlihat seperti pecundang ketika menangis didepan
orang yang tak kuijinkan untuk melihatku menangis” nyatanya aku tau, betapa
rapuhnya dia saat benar-benar menangis didepan orang. Ketika semuanya
benar-benar mencapai limitnya dan dia tidak bisa lagi menahan semuanya karna
tempat untuk memendam semuanya telah terisi penuh dengan semua rasa. Maka, air
mata itu akan keluar dengan sendirinya dan suara itupun akan perlahan terdengan
dengan sendirinya.
Dia
dibenci banyak orang. Dikatain segala hal. Memang salahnya dia dan juga salah
mereka. Sejak kecil, SD, SMP dan SMA yang benar-benar banyak. Benar-benar
banyak yang membencinya. Mengikuti prinsip tetapi pertemanan dikorbankan.
Menjalani proses tetapi pertemanan di relakan. Berusaha berbuat baik tetapi
tidak semua orang menganggapnya dengan baik. Dipaksa menelan semua ucapan
mereka, dipaksa melihat semua tingkah laku mereka dan dipaksa menerima semua
perlakuan mereka. Mereka membencinya. Aku rasa dia telah menjadi sedikit lebih
baik dari sikap yang sebelumnya karna suasana yang baru setelah 3 tahun di SMP.
Tetapi, mungkin itu belum cukup. Dia kasar, tidak sopan, pemarah, iri dan
licik. Egois, tidak punya perasaan dan penghianat. Dia tidak punya etika. Tidak
punya sopan santun. Itu dia. Ya, itu dia..
Dia
pernah mencoba setia sebagai seorang teman tetapi dia tinggalin. Dia pernah
mencoba mengorbankan sesuatu untuk temannya tetapi dia manfaatin. Dia pernah
mencoba tetapi tidak dihargai.. dia pernah mencoba, ya dia pernah mencoba walau
hanya beberapa kali. Dan dari sana dia langsung mengambil sebuah keputusan yang
menjadi rule untuk nya menjalani semua kesehariannya. Prinsip yang justru
merugikannya sendiri.
Mungkin
karna dia juga selalu meninggalkan temannya. Ya, itu benar. Itu salahnya. Karna
dia selalu salah selama 3 tahun terakhir ini. Aku selalu merasa kasihan. Apapun
yang dicobanya hanya akan membuat dia semakin terlihat buruk. Dia, ya dia.. dia
hanya semakin akan dibenci. Apapun yang dia coba agar keadaan dengan orang yang
dia benci maupun yang membencinya menjadi lebih baik selalu salah. Selalu salah
dan salah. Bahkan hanya dengan satu kata yang diucapkannya kesalahan fatal
selalu ada. Untuk dia diam pun susah, karna diam bukan sifat nya. Memaksa diam,
dan itupun salah. Tetap salah. Berusaha tidak melihat dia yang dibencinya.
Mengalihkan pandangan dan sok sibuk. Hanya demi menstabilkan suasana dan
kondisi. Berhenti berusaha membuat baik, itu hanya akn membuatnya menjadi
semakin buruk. Dia berhenti dan kini dia hanya bisa bungkam. Tak mengucapkan
apapun. Tak mengerjakan apapun. Tak melakukan apapun yang bisa dilakukannya.
Mengamati dan melihat. Hanya itu, ya..
Dia
selalu merasa paling penting. Orang banyak yang mencarinya, lewat chat, sms,
telpon bahkan VC. Tapi tak satupun yang menghargainya. Ya, karna dia selalu
merasa dibutuhkan. Padahal nyatanya dia hanya merasa, bukan benar-benar
dibutuhkan. Tak berguna dan membuang waktunya. Hanya membuatnya semakin merasa
buruk. Dia tidak berguna. Dia ditanyai kehadirannya, tanggung jawabnya dan
komitmennya. Hanya akan membuatnya semakin terlihat buruk di mata orang lain.
Mengorbankan hal yang lebih penting dari sekedar merasa dibutuhkan di suatu
tempat dimana sebenarnya dia hanya merasa dibutuhkan. Dia tidak ingin
mempercayai itu tapi semakin dalam dan semakin terlihat kebenarannya bahwa dia
hanya merasa dibutuhkan. Semua berjalan dengan baik tanpanya. So what? Kenapa
dia harus ada ditempat itu jika dia tidak butuhkan. Aku pun akan berpikir
bagaimana harus membagi waktuku. Aku tentu akan buang waktu menghadiri acara dimana
aku merasa hanya dibutuhkan, karna aku akan tau setelah mendatanginnya. Ya, I
feel so. And I’ll do too.
Bee15th_
Mataram,
5 Mei 2018

Posting Komentar